
Sebuah potret seseorang berdiri di hadapan cermin pecah, pandangannya terfokus pada pantulan dirinya. Setiap fragmen kaca yang patah menangkap emosi yang berbeda—senang, sedih, dan amarah—mencerminkan kompleksitas pengalaman manusia melalui cahaya pecah dan ekspresi yang terdistorsi.